Transportasi Massal



Butuh Rencana Detail Terintegrasi



JAKARTA, KOMPAS- Butuh perencanaan detail dalam mengintegrasikan antarmoda transportasi massal ataupun reguler.

"Kereta ringan (light rail transit/ LRT) Kelapa Gading-Kebayoran Lama, misalnya, mesti terintegrasi baik dengan KRL dan bus transjakarta di jalur yang dilewati, misalnya di kawasan Kebon Sirih. Kebon Sirih ini dekat dengan Stasiun Gondangdia dan halte transjakarta Balai Kota," kata pengamat transportasi dari Masyarakat Transportasi Indonesia Aditya Dwi Laksana, Minggu (21/6).

Integrasi yang dimaksud bukan sekadar meletakkan stasiun baru LRT berdekatan dengan stasiun atau halte yang sudah ada, melainkan memberikan jalur pejalan kaki khusus yang aman dan nyaman dari stasiun baru ke stasiun atau halte yang sudah ada.

Fasilitas lain, seperti parkir sepeda dan penataan pedagang di sekitar halte/stasiun ataupun sepanjang trotoar, harus tegas dilakukan.

Gurbernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama berharap sejumlah proyek yang sedan dan akan dikerjakan untuk meningkatkan kapasitas angkutan massal serta mengurai kemacetan berjalan dengan baik.

Terkait LRT dari Jakarta hingga Bogor yang akan digulirkan pemerintah pusat, Pemkot Bogor menyarankan agar stasiun LRT dibangun di Tanah Baru, Bogor Utara. Di Tanah Baru, pemerintah daerah sedang membebaskan lahan untuk membuat terminal baru guna mengurangi beban Terminal Baranangsiang.

Pembangunan jaringan LRT, menurut rencana, akan dimulai dengan pemancangan tiang pada 17 Agustus 2015, "Kapan terwujud stasiun LRT di Tanah Baru, saya sendiri belum bisa memastikan," kata Wali Kota Bogor Bima Arya Sugiarto.

Komuter yang tinggal di Bogor, tetapi bekerja di Jadetabek, mempunyai beberapa pilihan menuju lokasi kerja. bisa dengan KRL, bus, angkutan umum atau kendaraan pribadi lewat jalan tol dan jalan raya, bukan tol. Masalahnya, pertumbuhan penduduk yang pesat belum bisa diikuti ketersediaan sarana dan prasarana trasportasi. "Diperlukan terobosan entah dalam skema pendanaan atau aturan untuk mempercepat realisasi," kata Bima.

Wali Kota Tangerang Arief R Wismansyah menambahkan, selain melanjutkan jalur transjakarta Ciledug-Blok M hingga masuk kawasan di Puri Beta, kota ini menyiapkan pembangunan LRT dan stasiun terpadu dengan halte dan terminal di Poris Plawad.

Aeromovel

Di Kota Bekasi, meskipun belum ada program pembangunan kawasan terpadu, pemerintah kota setempat berencana mendekatkan angkutan massal ke kompleks hunian melalui pembangunan Aeromovel yang ditargetkan beroperasi pada 2017. Diharapkan, terobosan ini dapat mengurai kemacetan di tengah Kota Bekasi.

Moda Transportasi Aeromovel yang bergerak menggunakan tenaga dorongan angin kini masih dalam tahap kajian. Menurut rencana, moda ini menghubungkan kompleks Perumahan Kota Harapan Indah, Summarecon, dan Kemang Pratama. Rute Aeromovel akan membentang dari utara ke selatan Kota Bekasi sepanjang 12km.

Kepala dinas Perhubungan Kota Bekasi Supandi Budiman mengungkapkan, Aeromovel akan melintasi Jalan Ahmad Yani dan Stasiun Kota Bekasi yang berada di tengah kota. "Jika ingin menuju Jakarta bisa turun di stasiun untuk menyambung dengan kereta api atau di Harapan Indah kemudian melanjutkan dengan bus transjakarta Koridor II (rute Harmoni-Harapan Indah)," ujar Supandi budiman, Senin.

Proyek Aeroovel dijalankan Konsorsium Aeromovel Indonesia, Walikota bekasi Rahmat Effendi mengatakan, pembangunan Aeromovel yang nanti akan diintegrasikan dengan LRT, menelan investasi senilai Rp. 2 triliun, Seluruh pembiayaan murni dari investor.

Kendati demikian, Supandi mengakui, selain mengintegrasikan Aeromovel dengan kereta ringan, keberadaan sarana angkutan kota lain perlu diselaraskan. "Kalau setelah naik LRT atau Aeromovel terus naik ojek, ya, sama aja belum terintegrasi," ujarnya. (ILO/MKN/BRO/ART/PIN)


Sumber : KOMPAS, Selasa, 23 Juni 2015, Hal 27

 




 

joomla template
program indir